GAZEBO Menampilkan Artikel dalam Kategori "Teknologi" | GAZEBO
Tampilan : Daftar Grid
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Eksperimen ini Bisa Menghadirkan Hantu


Dalam sebuah percobaan yang diklaim bisa menjelaskan mengapa beberapa orang melihat hantu, peserta dibuat merasa seolah-olah mereka melihat hantu di sekitar mereka dan bahwa hantu menyentuh punggung mereka dengan jari-jari yang tak terlihat. Ilusi itu begitu nyata sehingga beberapa peserta tes tersebut memohon tes tersebut untuk segera dihentikan karena ketakutan.
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Para ilmuwan dari Ecole Polytechnique Federale de Lausanne Swiss, telah menunjukkan bahwa dimungkinkan untuk menginduksi ilusi melihat dan merasakan penampakan dengan menciptakan situasi dimana seseorang sejenak kehilangan jejak lokasi tubuh mereka dalam ruang dan waktu.
Para ilmuwan ini sedang menyelidiki sensasi aneh yang merasakan seseorang di dekatnya, tapi tidak ada yang benar-benar hadir dan tidak ada yang dapat dilihat. Para ilmuwan menyebutnya “Perasaan Kehadiran,” atau FoP (Feeling of Present) yang singkat. Ini adalah fenomena psikologis yang telah didokumentasikan sepanjang sejarah, yang mengarah ke berbagai keyakinan dalam hal supranatural. Meskipun didokumentasikan dengan baik, para ilmuwan tidak benar-benar yakin bagaimana fenomena ini dipicu oleh otak.

Membangunkan “Hantu”
Para ilmuwan menduga bahwa daerah tertentu dari otak bertanggung jawab untuk ilusi ini, termasuk korteks temporoparietal, korteks insular, dan korteks frontoparietal.
Untuk mereproduksi FoP, para peneliti membuat percobaan yang menarik:
Para peneliti pertama menganalisis otak dari 12 pasien dengan gangguan neurologis – sebagian besar epilepsi – yang pernah mengalami semacam “Penampakan”. Analisis MRI otak pasien mengungkapkan gangguan dengan tiga daerah korteks: korteks insular, korteks parietal-frontal, dan korteks temporo-parietal. Ketiganya terlibat dalam kesadaran diri (self-awareness), gerakan dan rasa posisi dalam ruang (proprioception). Bersama-sama, mereka memberikan kontribusi untuk pemrosesan sinyal multi indrawi, yang penting untuk persepsi tubuh sendiri.
Para ilmuwan melakukan sebuah percobaan “disonansi”. Peserta ditutup matanya dan melakukan gerakan dengan tangan mereka di depan tubuh mereka. Di belakang mereka, perangkat robot mereproduksi gerakan mereka, menyentuh mereka di bagian belakang secara real time. Hasilnya adalah semacam perbedaan spasial, tetapi karena gerakan robot sesuai secara realtime dengan gerakan yang dilakukan peserta, otak peserta mampu beradaptasi dengan sentuhannya.
Selanjutnya, ahli saraf memperkenalkan penundaan temporal antara gerakan peserta dan sentuhan robot. Dalam kondisi asynchronous, mendistorsi persepsi temporal dan spasial, hasilnya para peneliti mampu menciptakan ilusi hantu.
Para peserta tidak menyadari tujuan percobaan ini. Setelah beberapa menit tersentuh sentuhan tertunda ini, beberapa peserta melaporkan “perasaan kehadiran,” yang kuat bahkan mereka menghitung sampai ada empat “hantu” yang sebenarnya tidak ada. Bagi sebagian orang, perasaan itu begitu kuat sehingga mereka meminta para peneliti untuk menghentikan percobaan.
“Eksperimen kami menginduksi sensasi kehadiran asing di laboratorium untuk pertama kalinya,” kata penulis studi Olaf Blanke. “Ini menunjukkan bahwa perasaan kehadiran dapat timbul dalam kondisi normal, melalui sinyal sensorik-motorik yang bertentangan. Ini menegaskan bahwa hal itu disebabkan oleh perubahan persepsi dari tubuh mereka sendiri di otak.”
Robot sensorimotor juga mampu menginduksi FoP pada peserta yang sehat.
Penelitian ini bisa membantu kita memahami mengapa orang yang menderita stres emosional atau melihat penampakan, serta menawarkan pemahaman yang lebih dalam mengenai mekanisme otak yang bertanggung jawab untuk halusinasi dan skizofrenia.
#A3

Percobaan Sederhana di Bulan



Jika seekor gajah jatuh bersama dengan seorang manusia, atau Jika Anda menjatuhkan palu dan bulu secara bersamaan, yang manakah yang akan mencapai tanah pertama kali?
Di Bumi, jawabannya adalah gajah dan palu, namun lebih dikarenakan adanya hambatan udara. Para ilmuwan, bahkan sebelum Galileo, telah merenungkan dan menguji percobaan sederhana ini dan merasa bahwa tanpa hambatan udara, semua benda akan jatuh dengan cara yang sama. Inilah yang kemudian disebut sebagai Prinsip Ekivalensi

Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Galileo menguji prinsip ini dan mencatat bahwa dua bola yang berbeda beratnya mencapai tanah secara bersamaan, meskipun banyak sejarawan yang skeptis bahwa ia melakukan percobaan ini dari menara miring Pisa, Italia seperti cerita rakyat yang berkembang.
Tempat yang baik dan bebas dari hambatan udara untuk menguji prinsip ekivalensi ini adalah di Bulan, dan pada tahun 1971, astronot Apollo 15 David Scott menjatuhkan palu dan bulu secara bersama menuju permukaan Bulan. Benar saja, seperti yang para ilmuwan perkirakan, keduanya mencapai permukaan bulan pada waktu yang sama. Prinsip ekivalensi menunjukkan bahwa percepatan suatu benda karena gravitasi tidak tergantung pada massa, kepadatan, komposisi, warna, bentuk, atau apa pun dari benda yang jatuh. konsekuensi logis dari prinsip ini adalah bahwa cahaya (foton) yang meskipun tidak ber massa, juga harus terpengaruh oleh gravitasi. Inilah yang dipikirkan einstein untuk membangun teori relativitas umumnya.
Jadi jika tidak ada hambatan udara, anda tidak akan bisa menyusul dan menangkap kekasih anda yang jatuh lebih dulu dari anda, meskipun berat anda 10 atau 100 kali lebih berat dari kekasih anda.
Prinsip ekivalensi sangat penting untuk fisika modern, karena yang telaahnya secara mendalam dan jangkauannya masih diperdebatkan dan diuji hingga hari ini.
#A3

Sniper SPR-2


PT Pindad adalah perusahaan alutsista milik Pemerintah Indonesia. Hampir sebagian besar alutsista produksi Pindad digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).



Varian produk alutsista yang mampu dibuat oleh Pindad berupa pistol, senapan sampai kendaraan tempur. Kualitas produk industri pelat merah ini pun sudah mulai diakui dunia.



Tak hanya itu, senjata buatan Pindad yakni senapan sniper SPR-2 yang dipakai oleh Kopassus menjadi buah bibir di dunia internasional. Ternyata, senapan sniper canggih ini tak bisa dibuat oleh sembarang negara.


Sniper SPR-2 yang dipamerkan di JIExpo Kemayoran

Senapan sniper SPR-2 ini pertama kali secara publik dipamerkan di Indo Defense 2014 Expo & Forum yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan di JIExpo Kemayoran, Jakpus, Rabu (5/11/2014). Senjata ini ditakuti karena memiliki peluru yang mampu menembus lapis baja termasuk kendaraan tempur dengan jenis tank.

"Sniper SPR-2 jarak tembaknya bisa sampai 2 km, dan sangat diketahui oleh banyak negara, termasuk negara maju. Pelurunya yang ditakuti namanya 12,7 mm anti material," ujar Humas Pindad, Sena Maulana di stan Pindad.
Peluru anti material ini bisa menembus lapisan baja. Dan saat peluru ditembakkan dan menembus material, peluru tersebut akan terbakar lalu meledak di lokasi sasaran tembak (didalam target tembakan).

"Banyak dipakai pasukan kita seperti Kopassus, Kavaleri. Hampir semua pengunjung dari asing yang datang melihatnya senjata ini karena sudah didengar di dunia Pindad punya unggulan ini," kata Sena.

Pameran alutsista internasional ini digelar hingga tanggal 8 November 2014. Namun pameran ini baru dibuka untuk umum di hari terakhir, dan pada tanggal 7 November 2014, pengunjung yang hadir merupakan stake holder industri alat pertahanan.

"Kita peserta pameran saling mengunjungi untuk melihat produk masing-masing," ucap Sena.

Seorang peneliti dari Universitas Indonesia yang hadir di pameran, Egalita mengaku kagum dengan teknologi alat pertahanan dari dalam dan luar negeri yang dipamerkan dalam acara ini. Ia pun berharap agar ke depan Pindad sebagai salah satu produsen dalam negeri bisa lebih maju lagi.

"Teknologi oke banget tapi saya berharap agar Pindad lebih besar lagi. Supaya industri dalam negerinya maju," tuka Ega di lokasi yang sama.


Fakta Unik dari Sniper SPR-2 :

1. Kurang dari 4 negara yang mampu membuat senjata ini

PT Pindad memproduksi senapan sniper SPR-2. Ternyata, jenis senapan yang juga dipakai Kopassus ini cuma mampu diproduksi oleh segelintir negara di dunia.

"Di dunia kurang dari 4 negara yang mampu buat. Itu Amerika dan Eropa, gak enak kita sebut namanya dia di sini juga," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

2. Jangkauan Tembak yang Luar biasa



Kopassus dilengkapi senjata dengan senapan sniper SPR-2 buatan PT Pindad. Senjata ini memiliki jangkauan target mencapai ribuan meter.

"Senapan SPR-2 ini jangkauannya sampai 2 km. Tetapi jarak efektifnya 1 km," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Dia menyatakan sedikit sniper buatan luar negeri yang mampu bersaing dengan SPR-2. Kebanyakan sniper buatan luar negeri jangkauan targetnya di bawah SPR-2.

"Saingannya itu sniper black arrow dan truvelo. Keduanya di bawah SPR-2 jangkauannya," terang dia.
Black Arrow

Truvelo



3. Amunisi dari Sniper SPR-2 ini dapat Menembus, Membakar, dan Meledak di bagian dalam kendaraan tempur / target nya.

Senapan sniper SPR-2 buatan PT Pindad memiliki banyak sekali kelebihan. Senjata yang saat ini dipakai Kopassus ini amunisinya memiliki sifat yang terbilang istimewa.

"Waktu mengenai target amunisinya bisa memberi 3 efek sekaligus. Menembus, membakar dan meledak di dalam target dalam satu waktu," kata kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Tak hanya itu, kata dia, senapan sniper SPR-2 tergolong besar dikelasnya. SPR-2 memiliki amunisi kaliber 12,7 milimeter.

"Senapan ini tergolong besar dengan kaliber 12,7 milimeter. Di pasaran biasanya cuma 5,62 milimeter," terang dia.

Amunisi Sniper SPR-2

4. Peluru / Amunisi mampu menembus tank

Jenis peluru senapan sniper SPR-2 buatan PT Pindad ditakuti banyak negara. Peluru ini mampu menembus kendaraan lapis baja sekalipun.

"Amunisinya 12,7 mm anti material. Jenis pelurunya paling ditakuti karena bisa menembus tank dan kendaraan lapis baja," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Masih menurutnya, senapan sniper SPR-2 ini berawal dari sniper SPR 2 buatan luar negeri milik TNI yang tak berani diuji coba. Kemudian Pindad berusaha menguji dan akhirnya membuat sendiri.

"Tahun 2003, TNI punya 3 pucuk dari negara lain tapi gak berani uji karena berat dan besar. Akhirnya kita uji bareng-bareng lalu kita buat sendiri tahun 2006, itu awalnya," pungkas dia.



5. Sniper ini bisa mengguncang dunia sniper Internasional


PT Pindad memproduksi senapan sniper SPR-2 untuk digunakan Kopassus. Senjata ini pun mengundang decak kagum dunia.

"Kita sedang bikin 150 pucuk (senapan SPR-2) buat Kopassus. Dunia sniper internasional sudah langsung gempar, bagaimana kalau lebih?" kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Selain menciutkan nyali, menurutnya kemampuan Pindad itu membuat beberapa negara pun kepincut ingin memiliki. Saat pameran senjata 2014 (Indo Defence) kali ini banyak negara yang ingin melihat dari dekat senapan tersebut.

"Orang-orang asing juga langsung lihat ke sini. Mereka sudah denger ini, kita mampu membuat," terang dia.

#A3

Hoverbike : Transportasi Masa Depan


Hoverbike, yup kendaraan yang tidak memiliki roda ini sudah mulai di produksi.Kode untuk kendaraan ini adalah  Aerofex's Aero-X. Aerofex mulai diujicoba pertengahan tahun ini dan segera diproduksi masal pada pertengahan tahun depan!. Tidak tanggung tanggung, hoverbike ini dapat melaju sampai dengan 72 kilometer per jam dan terbang di ketinggian 3,7 meter diatas tanah.



tidak tanggung tanggung juga, satu hoverbike ini rencananya akan dihargai 1 milyar rupiah per unit, apakah anda berniat membelinya ? lihat video prototype Aerofex's Aero-X dibawah ini.


#A3

Yuk Intip Cara Membuat Prosesor



Pasir, seperempat bagiannya terbentuk dari silikon, yakni unsur kimia yang paling berlimpah di muka bumi ini setelah oksigen. Pasir (terutama quartz), mempunyai persentase silikon yang tinggi di dalam bentuk Silicon Dioxide (SiO2) dan pasir merupakan bahan pokok untuk memproduksi semiconductor.






Setelah memperoleh mentahan dari pasir dan memisahkan silikonnya, materiil yang kelebihan dibuang. Lalu, silikon dimurnikan secara bertahap hingga mencapai kualitas ‘semiconductor manufacturing quality’, atau biasa disebut ‘electronic grade silicon’. Pemurnian ini menghasilkan sesuatu yang sangat dahsyat dimana ‘electronic grade silicon’ hanya boleh memiliki satu ‘alien atom’ di tiap satu milyar atom silikon. Setelah tahap pemurnian silikon selesai, silikon memasuki fase peleburan. Dari gambar di atas, kita bisa melihat bagaimana kristal yang berukuran besar muncul dari silikon yang dileburkan. Hasilnya adalah kristal tunggal yang disebut ‘Ingot’.



Kristal tunggal ‘Ingot’ ini terbentuk dari ‘electronic grade silicon’. Besar satu buah ‘Ingot’ kira-kira 100 Kilogram atau 220 pounds, dan memiliki tingkat kemurnian silikon hingga 99,9999 persen.



Setelah itu, ‘Ingot’ memasuki tahap pengirisan. ‘Ingot’ di iris tipis hingga menghasilkan ‘silicon discs’, yang disebut dengan ‘Wafers’. Beberapa ‘Ingot’ dapat berdiri hingga 5 kaki. ‘Ingot’ juga memiliki ukuran diameter yang berbeda tergantung seberapa besar ukuran ‘Wafers’ yang diperlukan. CPU jaman sekarang biasanya membutuhkan ‘Wafers’ dengan ukuran 300 mm.

Spoilerfor pic: 

Setelah diiris, ‘Wafers’ dipoles hingga benar-benar mulus sempurna, permukaannya menjadi seperti cermin yang sangat-sangat halus. Kenyataannya, Intel tidak memproduksi sendiri ‘Ingots’ dan ‘Wafers’, melainkan Intel membelinya dari perusahaan ‘third-party’. Processor Intel dengan teknologi 45nm, menggunakan ‘Wafers’ dengan ukuran 300mm (12 inch), sedangkan saat pertama kali Intel membuat Chip, Intel menggunakan ‘Wafers’ dengan ukuran 50mm (2 inch).



Cairan biru seperti yang terlihat pada gambar di atas, adalah ‘Photo Resist’ seperti yang digunakan pada ‘Film’ pada fotografi. ‘Wafers’ diputar dalam tahap ini supaya lapisannya dapat merata halus dan tipis.



Di dalam fase ini, ‘Photo Resist’ disinari cahaya ‘Ultra Violet’. Reaksi kimia yang terjadi dalam proses ini mirip dengan ‘Film’ kamera yang terjadi pada saat kita menekan shutter (Jepret!).

Daerah paling kuat atau tahan di ‘Wafer’ menjadi fleksibel dan rapuh akibat efek dari sinar ‘Ultra Violet’. Pencahayaan menjadi berhasil dengan menggunakan pelindung yang berfungsi seperti stensil. Saat disinari sinar ‘Ultra Violet’, lapisan pelindung membuat pola sirkuit. Di dalam pembuatan Processor, sangat penting dan utama untuk mengulangi proses ini berulang-ulang hingga lapisan-lapisannya berada di atas lapisan bawahnya, begitu seterusnya.

Lensa di tengah berfungsi untuk mengecilkan cahaya menjadi sebuah fokus yang berukuran kecil.



Dari gambar di atas, kita dapat gambaran bagaimana jika satu buah ‘Transistor’ kita lihat dengan mata telanjang. Transistor berfungsi seperti saklar, mengendalikan aliran arus listrik di dalam ‘Chip’ komputer. Peneliti Intel telah mengembangkan transistor menjadi sangat kecil sehingga sekitar 30 juta ‘Transistor’ dapat menancap di ujung ‘Pin’.



Setelah disinari sinar ‘Ultra Violet’, bidang ‘Photo Resist’ benar-benar hancur lebur. Gambar di atas menampakan pola ‘Photo Resist’ yang tercipta dari lapisan pelindung. Pola ini merupakan awal dari ‘transistors’, ‘interconnects’, dan hal yang berhubungan dengan listrik berawal dari sini.

Spoilerfor pic: 

Meskipun bidangnya hancur, lapisan ‘Photo Resist’ masih melindungi materiil ‘Wafer’ sehingga tidak akan tersketsa. Bagian yang tidak terlindungi akan disketsa dengan bahan kimia.



Setelah tersketsa, lapisan ‘Photo Resist’ diangkat dan bentuk yang diinginkan menjadi tampak.



‘Photo Resist’ kembali digunakan dan disinari dengan sinar ‘Ultra Violet’. ‘Photo Resist’ yang tersinari kemudian dicuci dahulu sebelum melangkah ke tahap selanjutnya, proses pencucian ini dinamakan ‘Ion Doping’, proses dimana partikel ion ditabrakan ke ‘Wafer’, sehingga sifat kimia silikon dirubah, agar CPU dapat mengkontrol arus listrik.

Spoilerfor pic: 

Melalui proses yang dinamakan ‘Ion Implantation’ (bagian dari proses Ion Doping) daerah silikon pada ‘Wafers’ ditembak oleh ion. Ion ditanamkan di silikon supaya merubah daya antar silikon dengan listrik. Ion didorong ke permukaan ‘Wafer’ dengan kecepatan tinggi. Medan listrik melajukan ion dengan kecepatan lebih dari 300,000 Km/jam (sekitar 185,000 mph)



Setelah ion ditanamkan, ‘Photo Resist’ diangkat, dan materiil yang bewarna hijau pada gambar sekarang sudah tertanam ‘Alien Atoms’



Transistor ini sudah hampir selesai. Tiga lubang telah tersketsa di lapisan isolasi (warna ungu kemerahan) yang berada di atas transistor. Tiga lubang ini akan diisi dengan tembaga, yang berfungsi untuk menghubungkan transistor ini dengan transistor lain.



‘Wafers’ memasuki tahap ‘copper sulphate solution’ pada tingkat ini. Ion tembaga disimpan ke dalam transistor melalui proses yang dinamakan ‘Electroplating’. Ion tembaga berjalan dari terminal positif (anode) menuju terminal negatif (cathode).



Ion tembaga telah menjadi lapisan tipis di permukaan ‘Wafers’.



Materiil yang kelebihan dihaluskan, meninggalkan lapisan tembaga yang sangat tipis.



Nah udah mulai ribet. Banyak lapisan logam dibuat untuk saling menghubungkan bermacam-macam transistors. Bagaimana rangkaian hubungan ini disambungkan, itu ditentukan oleh teknik arsitektur dan desain tim yang mengembangkan kemampuan masing-masing processor. Dimana chip komputer terlihat sangat datar, sebenarnya memiliki lebih dari 20 lapisan untuk membuat sirkuit yang kompleks. Jika kamu melihat dengan kaca pembesar, kamu akan melihat jaringan bentuk sirkuit yang rumit, dan transistors yang terlihat futuristik, ‘Multi-Layered Highway System’ 



Ini hanya contoh super kecil dari ‘Wafer’ yang akan melalui tahap test kemampuan pertama. Di tahapan ini, sebuah pola test dikirimkan ke tiap-tiap chip, lalu respon dari chip akan dimonitor dan dibandingkan dengan ‘The Right Answer’.



Setelah hasil test menunjukan bahwa ‘Wafer’ lulus, ‘Wafer’ dipotong menjadi sebuah bagian yang disebut ‘Dies’. Coba juragan lihat, proses yang bener-bener ribet tadi ternyata hasilnya kecil doank. Pada gambar paling kiri itu ada 6 kelompok ‘Wafer’, pada gambar kanannya udah berapa ‘Wafer’ tuh !?!?



‘Dies’ yang lulus test, akan diikutkan ke tahap selanjutnya yaitu ‘Packaging’. ‘Dies’ yang tidak lulus, dibuang dengan percumanya T_T. Ada hal yang lucu beberapa tahun lalu, Intel membuat kunci dari ‘Dies’ yang tidak lulus ini ^^. Ada EBAYnya lho, ayo juragan yang tertarik beli, soalnya tinggal 4..



Ini adalah gambar satu ‘Die’, yang tadinya dipotong pada proses sebelumnya. ‘Die’ pada gambar ini adalah ‘Die’ dari Intel Core i7 Processor.



Lapisan bawah, ‘Die’, dan ‘Heatspreader’ dipasang bersama untuk membentuk ‘Processor’. Lapisan hijau yang bawah, digunakan untuk membentuk listrik dan ‘Mechanical Interface’ untuk Processor supaya dapat berinteraksi dengan sistem PC. ‘Heatspreader’ adalah ‘Thermal Interface’ dimana solusi pendinginan diterapkan, sehingga Processor dapat tetap dingin dalam beroperasi.



‘Microprocessor’ adalah produk terkompleks di dunia ini. Faktanya, untuk membuatnya memerlukan ratusan tahap dan yang kita uraikan sebelumnya hanyalah yang penting saja.


Selama tes terakhir untuk Processor, Processor di tes karakteristiknya, seperti penggunaan daya dan frekwensi maksimumnya.



Berdasarkan hasil test sebelumnya, Processor dikelompokan dengan Processor yang memiliki kemampuan sama. Proses ini dinamakan dengan ‘Binning’, ‘Binning’ ditentukan dari frekwensi maksimum Processor, kemudian tumpukan Processor dibagi dan dijual sesuai dengan spesifikasi stabilnya.



Yuk kita sama sama simak pembuatan secara detailnya : 





#A3

Komentar Terbaru

Just load it!