Dalam sebuah percobaan yang diklaim bisa menjelaskan mengapa beberapa orang melihat hantu, peserta dibuat merasa seolah-olah mereka melihat hantu di sekitar mereka dan bahwa hantu menyentuh punggung mereka dengan jari-jari yang tak terlihat. Ilusi itu begitu nyata sehingga beberapa peserta tes tersebut memohon tes tersebut untuk segera dihentikan karena ketakutan.
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Para ilmuwan dari Ecole Polytechnique Federale de Lausanne Swiss, telah menunjukkan bahwa dimungkinkan untuk menginduksi ilusi melihat dan merasakan penampakan dengan menciptakan situasi dimana seseorang sejenak kehilangan jejak lokasi tubuh mereka dalam ruang dan waktu.
Para ilmuwan ini sedang menyelidiki sensasi aneh yang merasakan seseorang di dekatnya, tapi tidak ada yang benar-benar hadir dan tidak ada yang dapat dilihat. Para ilmuwan menyebutnya “Perasaan Kehadiran,” atau FoP (Feeling of Present) yang singkat. Ini adalah fenomena psikologis yang telah didokumentasikan sepanjang sejarah, yang mengarah ke berbagai keyakinan dalam hal supranatural. Meskipun didokumentasikan dengan baik, para ilmuwan tidak benar-benar yakin bagaimana fenomena ini dipicu oleh otak.
Membangunkan “Hantu” Para ilmuwan menduga bahwa daerah tertentu dari otak bertanggung jawab untuk ilusi ini, termasuk korteks temporoparietal, korteks insular, dan korteks frontoparietal.
Untuk mereproduksi FoP, para peneliti membuat percobaan yang menarik: Para peneliti pertama menganalisis otak dari 12 pasien dengan gangguan neurologis – sebagian besar epilepsi – yang pernah mengalami semacam “Penampakan”. Analisis MRI otak pasien mengungkapkan gangguan dengan tiga daerah korteks: korteks insular, korteks parietal-frontal, dan korteks temporo-parietal. Ketiganya terlibat dalam kesadaran diri (self-awareness), gerakan dan rasa posisi dalam ruang (proprioception). Bersama-sama, mereka memberikan kontribusi untuk pemrosesan sinyal multi indrawi, yang penting untuk persepsi tubuh sendiri.
Para ilmuwan melakukan sebuah percobaan “disonansi”. Peserta ditutup matanya dan melakukan gerakan dengan tangan mereka di depan tubuh mereka. Di belakang mereka, perangkat robot mereproduksi gerakan mereka, menyentuh mereka di bagian belakang secara real time. Hasilnya adalah semacam perbedaan spasial, tetapi karena gerakan robot sesuai secara realtime dengan gerakan yang dilakukan peserta, otak peserta mampu beradaptasi dengan sentuhannya.
Selanjutnya, ahli saraf memperkenalkan penundaan temporal antara gerakan peserta dan sentuhan robot. Dalam kondisi asynchronous, mendistorsi persepsi temporal dan spasial, hasilnya para peneliti mampu menciptakan ilusi hantu.
Para peserta tidak menyadari tujuan percobaan ini. Setelah beberapa menit tersentuh sentuhan tertunda ini, beberapa peserta melaporkan “perasaan kehadiran,” yang kuat bahkan mereka menghitung sampai ada empat “hantu” yang sebenarnya tidak ada. Bagi sebagian orang, perasaan itu begitu kuat sehingga mereka meminta para peneliti untuk menghentikan percobaan.
“Eksperimen kami menginduksi sensasi kehadiran asing di laboratorium untuk pertama kalinya,” kata penulis studi Olaf Blanke. “Ini menunjukkan bahwa perasaan kehadiran dapat timbul dalam kondisi normal, melalui sinyal sensorik-motorik yang bertentangan. Ini menegaskan bahwa hal itu disebabkan oleh perubahan persepsi dari tubuh mereka sendiri di otak.”
Robot sensorimotor juga mampu menginduksi FoP pada peserta yang sehat.
Penelitian ini bisa membantu kita memahami mengapa orang yang menderita stres emosional atau melihat penampakan, serta menawarkan pemahaman yang lebih dalam mengenai mekanisme otak yang bertanggung jawab untuk halusinasi dan skizofrenia.
Jika seekor gajah jatuh bersama dengan seorang manusia, atau Jika Anda menjatuhkan palu dan bulu secara bersamaan, yang manakah yang akan mencapai tanah pertama kali?
Di Bumi, jawabannya adalah gajah dan palu, namun lebih dikarenakan adanya hambatan udara. Para ilmuwan, bahkan sebelum Galileo, telah merenungkan dan menguji percobaan sederhana ini dan merasa bahwa tanpa hambatan udara, semua benda akan jatuh dengan cara yang sama. Inilah yang kemudian disebut sebagai Prinsip Ekivalensi
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Galileo menguji prinsip ini dan mencatat bahwa dua bola yang berbeda beratnya mencapai tanah secara bersamaan, meskipun banyak sejarawan yang skeptis bahwa ia melakukan percobaan ini dari menara miring Pisa, Italia seperti cerita rakyat yang berkembang.
Tempat yang baik dan bebas dari hambatan udara untuk menguji prinsip ekivalensi ini adalah di Bulan, dan pada tahun 1971, astronot Apollo 15 David Scott menjatuhkan palu dan bulu secara bersama menuju permukaan Bulan. Benar saja, seperti yang para ilmuwan perkirakan, keduanya mencapai permukaan bulan pada waktu yang sama. Prinsip ekivalensi menunjukkan bahwa percepatan suatu benda karena gravitasi tidak tergantung pada massa, kepadatan, komposisi, warna, bentuk, atau apa pun dari benda yang jatuh. konsekuensi logis dari prinsip ini adalah bahwa cahaya (foton) yang meskipun tidak ber massa, juga harus terpengaruh oleh gravitasi. Inilah yang dipikirkan einstein untuk membangun teori relativitas umumnya.
Jadi jika tidak ada hambatan udara, anda tidak akan bisa menyusul dan menangkap kekasih anda yang jatuh lebih dulu dari anda, meskipun berat anda 10 atau 100 kali lebih berat dari kekasih anda.
Prinsip ekivalensi sangat penting untuk fisika modern, karena yang telaahnya secara mendalam dan jangkauannya masih diperdebatkan dan diuji hingga hari ini.
Falconry adalah suatu bentuk olah-raga kuno di
mana falconer (sebutan untuk orang yang melakukan falconry) melakukan kegiatan
berburu binatang liar menggunakan bantuan burung pemangsa. Perburuan di sini
adalah perburuan dengan menggunakan asas alamiah, di mana burung pemangsa yang
digunakan sebagai teman berburu dan mangsa yang diburu merupakan hubungan
antara pemangsa dan mangsa yang ada di habitat mereka.
Mengenai kapan awal mula falconry dilakukan,
penelitian telah menjelaskan bahwa olahraga ini bermula pada abad pertengahan
di mana orang-orang masih harus berburu untuk mendapatkan bahan makanan dan
mereka belum menemukan senjata yang sangat efektif untuk berburu. Ketika mereka
melihat burung pemangsa sangat handal dalam berburu, mereka akhirnya memiliki
ide untuk menangkap burung pemangsa liar dan kemudian melatihnya untuk
digunakan sebagai teman berburu mereka. Di Timur Tengah (Arab) dan Asia
Timur (China, Mongolia, Jepang, dan Korea) falconry sangat melegenda karena
memang dari sanalah asal olahraga kuno ini berada.
Pada perkembangan selanjutnya budaya falconry juga
dibawa ke Eropa dan menjadi sebuah simbol kejayaan para penguasa besar dunia
pada masa kerajaan zaman dahulu. Selain itu, falconry juga merupakan sebagai
sebuah simbol kebangsawanan yang mengacu kepada strata sosial pada masa
kerajaan.
Namun, ketika ditemukannya senjata api,
popularitas falconry di kalangan para bangsawan juga mulai berkurang. Burung
pemangsa tidak lagi dipakai sebagai teman berburu karena senjata api lebih
mudah digunakan di dalam berburu, di mana tidak membutuhkan perawatan yang
sulit. Tetapi untunglah masih ada beberapa orang yang melestarikan olahraga
kuno tersebut hingga kini.
Pada zaman sekarang, bentuk kegiatan falconry
masih sama seperti aslinya meskipun fungsi dan peralatan yang dipakai telah
banyak berubah. Falconry bukan semata-mata sebagai cara untuk mendapatkan bahan
makanan namun juga dapat digunakan sebagai cara untuk melakukan pengamanan
bandara (pemberantasan hama), di mana burung pemangsa digunakan untuk mengusir
burung-burung liar yang mencari makan di sekitar landasan pacu pesawat. Hal ini
dikarenakan burung-burung liar tersebut mengancam keselamatan para penumpang
pesawat. Sekecil apapun burung yang terhisap masuk ke dalam mesin jet pesawat
akan menyebabkan mesin jet tersebut rusak dan pesawat dapat mengalami
kecelakaan. Penggunaan falconry untuk mengatasi masalah ini sangat efektif
karena burung pemangsa yang dipakai adalah pemangsa alami burung-burung liar
tersebut. Sehingga burung-burung liar tersebut akan segera pergi bila
mengetahui kedatangan burung pemangsa yang telah terlatih. Selain efektif, cara
sederhana ini lebih murah bila dibandingkan dengan menggunakan alat pengusir
buatan, seperti contohnya sebuah audio sistem yang dapat mengeluarkan suara
burung yang sedang terganggu, di mana hanya beberapa burung saja yang terusir.
Jadi, falconry dapat juga digunakan sebagai Avian Control System yang sangat
efektif dan dengan biaya yang relatif murah.
Fungsi lain falconry yang tak kalah penting adalah
sebagai metode untuk menangkarkan burung pemangsa. Sebagai variabel utama yang
harus ada di dalam melakukan falconry, burung pemangsa tidak bisa selamanya
didapatkan dengan cara menangkap dari alam. Jikalau terus menerus diambil dari
alam, hal ini akan berdampak buruk terhadap populasi mereka, sehingga ide
penangkaran secara intensif dilakukan. Penangkaran tidak hanya bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan falconer akan burung pemangsa untuk dapat melakukan falconry
tetapi juga untuk meningkatkan jumlah populasi burung yang telah mengalami
penurunan jumlah di alam karena faktor lain, khususnya karena penggunaan DDT,
sebuah obat anti hama tanaman yang menyebabkan penipisan cangkang telur
sehingga telur-telur burung pemangsa tidak dapat menetas dengan baik. Salah
satu cerita sukses yang ada adalah usaha peningkatan jumlah Alap-alap Kawah
atau Peregrine Falcon dengan program pembiakan secara intensif yang
dilakukan oleh para falconer di Amerika. Sekarang ini, pemerintah Amerika telah
merubah status Peregrine Falcon dari terancam punah menjadi stabil karena
mereka tidak lagi terancam punah. Semua ini berkat usaha keras para falconer
Amerika yang telah berhasil menangkarkan mereka. Peregrine Falcon adalah salah
satu spesies burung pemangsa yang sangat handal untuk dijadikan teman berburu,
sehingga sangatlah disayangkan jika para falconer harus kehilangan spesies
burung tersebut.
Masih sangat banyak fungsi falconry yang lainnya,
namun fungsi-fungsi falconry seperti di atas diharapkan untuk dapat
direalisasikan dengan populernya olah-raga ini di Indonesia, terutama fungsi
falconry sebagai metode penangkaran burung pemangsa. Hal ini mengingat
banyaknya spesies burung pemangsa di Indonesia yang sangat terancam punah.
Semoga dengan adanya penghargaan yang lebih terhadap burung pemangsa, mereka
tidak akan cepat punah karena faktor perburuan liar dan perusakan habitat. Yang
perlu ditegaskan di sini bukan hanya karena mereka sangat penting untuk
falconry, tetapi lebih mengacu pada fakta bahwa mereka adalah kunci
keseimbangan suatu ekosistem, sebagai peringkat satu di dalam suatu rantai
makanan.
Penggunaan falconry pada zaman sekarang (secara
lebih detail):
1. Hunting / pure falconry (Murni untuk berburu) Kegiatan ini merupakan inti dari falconry dan bisa
dikatakan sebagai tujuan paling utama dari setiap falconer. Dengan menjadikan
burung pemangsa sebagai partner berburu, maka pemilihan burung pun tidak bisa
dilakukan dengan serta merta dan harus dilakukan dengan berbagai pertimbangan
antara lain, tipe lingkungan berburu, mangsa apa yang tersedia, dan lain-lain.
Setiap spesies burung pemangsa memiliki tipikal habitat dan cara berburu yang
berbeda, maka pilihan harus tepat dan sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan
di atas.
2. Ex-situ Breeding (pengembangbiakan secara
buatan) Breeding atau pengembangbiakkan secara buatan ini
bertujuan untuk meregenerasi burung pemangsa dan tidak ada batasan spesies
burung yang akan dikembangbiakkan. Tetapi program ini lebih dikhususkan untuk
spesies burung pemangsa yang populasinya sangat terancam punah, dalam hal ini
salah satunya adalah Nisaetus bartelsi atau Javan Hawk Eagle/ Elang Jawa. Di
dalam program breeding ini, burung pemangsa yang telah terlatih merupakan modal
utama sebagai calon indukan. Dengan pelatihan yang telah diberikan,
burung-burung tersebut tidak lagi seliar sebelumnya sehingga bisa
dikembangbiakkan secara buatan. Target ke depannya, kegiatan falconry hanya
akan menggunakan burung pemangsa hasil dari breeding, bukan dari tangkapan dari
alam. Selain itu, akan dilakukan pelepasanliaran hasil breeding ke alam untuk
mendukung jumlah populasi mereka di alam, di samping adanya usaha untuk menjaga
habitat mereka supaya tetap kondusif untuk mereka berkembangbiak.
3. Rehab and Release Program (program rehabilitasi
dan pelepasliaran) Di dalam kegiatan ini, fungsi falconry adalah
sebagai metode yang dipergunakan untuk melakukan proses rehabilitasi burung
pemangsa liar yang kategorinya dapat dilepasliarkan kembali. Sehingga ketika
waktunya tiba, burung pemangsa tersebut dapat kembali hidup dan berkembang-biak
di alam.
4. Education (Edukasi) Merupakan kegiatan yang melengkapi falconry, di
mana kegiatan edukasi terdiri dari pengenalan burung pemangsa kepada
masyarakat, demo terbang, dll. Dalam melakukan kegiatan ini sangat dibutuhkan
burung yang terlatih dan memiliki karakter yang baik sehingga masyarakat dapat
melakukan pengamatan secara lebih dekat. Mereka dapat mengenal burung pemangsa
secara lebih detail sehingga mereka lebih mengerti peran mereka di alam.
5. Pest control (Penggunaan falconry untuk
pemberantasan hama) Kegiatan falconry dapat juga digunakan untuk
melakukan pemberantasan hama karena falconry menggunakan asas alamiah. Sebagai
contohnya, kita bisa melakukan ‘airport patrol’ atau patroli bandara, di mana
di luar negri cara ini telah terbukti sangat efektif di dalam mengusir
burung-burung liar di sekitar landasan pacu pesawat. Burung-burung liar
tersebut sangatlah berbahaya jikalau terhisap masuk ke dalam mesin jet pesawat
karena dapat menyebabkan kecelakaan.
Singkatan - Singkatan yang sering digunakan :
- BoP : Bird Of Prey , Burung Predator (Burung Hantu / Elang) - Manning : Proses pendekatan / pembiasaan BoP terhadap manusia dengan tujuan agar lebih mudah diatur / dilatih - Weathering : Proses membiarkan BoP menikmati atmosfer (cuaca / suasana ditengah2 dunia manusia) untuk kesehatan dan membantu proses adaptasinya - FOF : Feed On Fist, memberi makan diatas glove / tangan - JTTF : Jump To The Fist, burung lompat ke glove / tangan - FTTF : Fly To The Fist, burung terbang ke glove / tangan dengan memakai leash - FF : Free Flight, latihan burung tebang bebas tanpa leash - Soaring : aktifitas terbang melayang yang dilakukan elang dengan memanfaatkan energi panas bumi - Jump Up : BOP terbang dari posisi dibawah dan Manusia berada di posisi yang lebih tinggi - Jump Down : BOP terbang dari posisi yang lebih tinggi dan manusia berada di posisi yang lebih rendah - Hunting Simulation : BOP mencoba berburu prey hidup - Glove : Sarung tangan khusus utuk menghandle BOP agar terhindar dari kuku tajam nya - Batting : burung menjauh / terbang / loncat ketika didekati oleh Manusia - Anklet : pengikat kaki BOP, terbuat dari kulit - Jesse : tali pendek terbuat dari kulit yang terhubung dengan Anklet - Perch : tempat tangkringan BOP - Leash : tali kulit setelah swivel, yang berfungsi untuk mengikatkan burung agar tidak terbang / escape - Tidbits : potongan daging kecil2 untuk melatih - Lure : equipment berbentuk seperti burung untuk melatih berburu - Chick : BoP yang masih bayi / bulu kapas - Brancher : BoP yang sudah berbulu lengkap (masih terdapat bulu kapas) tetapi belum mampu terbang (dalam istilah Manusia disebut dengan Anak) - Juvenille : BoP yang sudah dapat terbang, dan mempunyai bulu yang lengkap (dalam istilah Manusia disebut dengan Remaja) - Mature : BoP yang sudah dewasa
Ingat Jika Anda ingin menjadi seorang Falconer :
1. Nyawa BOP BUKANLAH SEBUAH MAINAN
Secara sengaja membiarkan burung-burung predatornya bertarung, makin dahsyat, makin fatal, manusia makin girang. Tujuan dan manfaatnya? tidak ada.
Kebodohan diatas adalah Mangsa utama Crested Serpent Eagle (Elang Bido) di alam bukanlah Barn Owl, kecuali memang kalau mangsa alaminya ialah Barn owl, dan jika diberi selain itu BoP anda akan mengalami gangguan pencernaan.
Kalau saja Burung Hantu menjadi hama merugikan di daerah anda, mungkin secara spontan manusia akan berusaha membunuh / mengurangi populasinya / mencari predator yg lebih kuat, TAPI BUKAN UNTUK TUJUAN PAMER DAN PUBLISH SEPERTI INI
menempatkan dua species yg berbeda jika disatukan sperti ini dalam 1 tempat tertutup (apalagi kandang!) KECUALI hewan itu adalah mangsa utama barn owl dan tanpa hewan itu, owl anda mengalami kesulitan nafsu makan. owl tipe penyendiri saat siang dan buas saat malam. bayangkan apa yg terjadi jika momen itu datang dan kondisinya masih seperti dalam gambar. HANYA 3 KEMUNGKINAN YG DAPAT TERJADI TENTANG GAMBAR INI : monyetnya stres, owlnya stres, atau pemiliknya yang memang mengalami stres akut.
3. Kalau Tidak Punya modal, Jangan Coba Coba Jadi Falconer !!
Anda tidak sanggup beli daging dan equipment? BATALKAN RENCANA MENJADI FALCONER / ADOPTER BOP . Anda tidak punya ruang kosong utk keperluan karantina, PERTIMBANGKAN ULANG RENCANA RENCANA MENJADI FALCONER / ADOPTER BOP.
Foto diatas adalah perlakuan bodoh. Sudah dikandangi, dan dikasih makan tahu seember. 4. Jadikan BOP Yang Anda Pelihara adalah Partner / Teman / Keluarga
Sebelum Memelihara please belajar dulu tentang jenis BOP, karakteristik, dan tipe makanan normalnya.
Cara Melatih BoP :
1. Perhatikan dulu Jenis BOP nya. Jika Masuk kedalam kelompok Nokturnal maka latihlah di malam hari, tetapi jika masuk ke dalam kelompok Diurnal latihlah dia di pagi / siang hari.
2. Atur Weight Management sebelum / pertama kali kita adopt. Agar kita dapat tau batasan makanan yang diberikan agar si BOP tidak malas di latih
3. Jika anda dapat dari Hasil Wild Capture (Tangkapan Liar). Maka langkah pertama adalah dengan mengasingkan / karantina BOP di dalam kardus / gudang yang sepi. Lalu sediakan tempat minum serta tempat untuk makanan (Mencit, Tiput, Puyuh, Ayam, Kelinci, Ikan). Jika BOP sudah tidak setres dan mulai agak tenang pasangkanlah Equip khusus di kaki nya, lalu tempat kan BOP ke perch dan taruh di tempat yang biasa orang rumah lewat / melakukan aktifitas (berguna agar BOP tidak takut terhadap Manusia). Lama karantina tergantung dari kondisi BOP.
4. Jika anda belum pernah mengadopsi BOP dengan umur Juvenile, TOLONG jangan pelihara dan adopsi BOP dengan umur chick / brancher.
5. Jika tahap 3 sudah dilakukan dan BOP sudah dalam tahap nyaman dan tenang. Lakukanlah Bonding Glove. Agar BOP nyaman saat naik ke glove. 6. Manning awal.
7. FOF, yakni Feed On Fist. Memberi makan dengan cara tangan kita menjepit prey, naikkan BOP ke atas tangan. Biarkan BOP mencabik dan memakan prey yang ada di genggaman tangan kita
8. JTTF, yakni Jump To The Fist. Memberi Makan dengan cara yang sama dengan FOF. Namun kali ini biarkan BOP yang melompat ke tangan kita dengan jarak yang agak jauh dari awal.
9. FTTF, yakni Fly To The Fist. Memberi makan dengan cara yang sama dengan JTTF. Namun dengan jarak diatas 3m.
10. FF, yakni Free Fly. BOP terbang bebas tanpa menggunakan leash / tali.
11. Jump Up, Yakni dengan menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya tetapi dengan posisi BOP dibawah dan Falconer diatas.
12. Jump Down, Kebalikannya dari Jump Up :D
13. Soaring, BOP terbang bebas dilangit dan memutari kita dengan cara mengikuti aliran angin
14. Lure Hunting, BOP terbang mengejar / mengincar Lure
15. Hunting Simulation, BOP terbang mengincar prey hidup
Mungkin kalian agak sedikit lupa dengan alur
cerita nya. Ini saya kasih sinopsisnya langsung.
Sinopsis (Ada Apa Dengan Cinta) I :
" Bertemakan cinta di masa-masaSMA,Ada
Apa dengan Cintamenampilkan
Cinta (Dian Sastrowardoyo) sebagai seorang pelajar SMA. Ialanggananjuara lomba puisi di sekolahnya yang
rutin diadakan tiap tahun. Cerita berawal dari Alya (Ladya Cherill) yang tubuhnya memar
karena kerap dipukuli sang ayah yang kerap cek-cok dengan ibunya. Alya adalah
sahabat karib Cinta dengan teman-temannya yang lain. Seperti Carmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal), dan Milly (Sissy Priscillia).
Di sekolah, juara lomba puisi tahun ini akan
diumumkan. Seluruh siswa yakin Cinta yang akan menjadi juara. Namun justru
pemenangnya tahun ini adalah Rangga (Nicholas Saputra). Karena Cinta dan
teman-temannya adalah pengurus mading sekolah, ia akan mewawancarai Rangga.
Namun Rangga adalah tipe laki-laki pendiam, penyendiri dan "dingin".
Saat Cinta berbicara dengan Rangga, ia melihat buku yang dipegang Rangga (buku
AKU karya Syumandjaya). Lalu Cinta memberinya surat dan membuat Rangga emosi.
Dan tanpa disengaja bukunya terjatuh. Cinta segera memungutnya. Dan membawa
pulang buku itu untuk dibaca.
Cinta mengembalikan buku tersebut saat Rangga
kebingungan mencarinya. Rangga pun berterima kasih pada Cinta. Semenjak itu
mereka menjadi dekat. Rangga mengajak Cinta keKwitang, tempat ia membeli buku lama. Saat diKwitang, Cinta teringat akan janji menonton konser
bersama teman-temannya. Ia pun meninggalkan Rangga untuk menonton konser.
Pada suatu malam Rangga dan Cinta kencan di
sebuah kafe. Namun sebelum Cinta berangkat, Alya menelepon untuk memintanya ke
rumah. Namun Cinta berbohong bahwa ia akan pergi ke rumah sakit. Akhirnya Cinta
pergi bersama Rangga. Di sana Cinta menyanyikan lagu yang dibuat dari puisi
Rangga. Saat Cinta pulang, mama Cinta akan pergi menjenguk Alya di rumah sakit
karena mencoba bunuh diri. Cinta menjadi sangat menyesal.
Keesokan harinya, Rangga menyapa Cinta. Namun
Cinta justru berkata ketus agar Rangga tidak mendekatinya lagi. Rangga pun
sepakat bahwa ia akan menjauh dari Cinta. Saat di rumah sakit Cinta
berterus-terang pada Alya bahwa ia berbohong dan Alya pun tahu bahwa Cinta
kencan dengan Rangga. Cinta tidak tahu bahwa saat ia berkata jujur,
teman-temannya yang lain ada dibelakangnya. Cinta juga meminta maaf kepada
teman-temennya yang lain.
Rangga yang saat itu akan berencana pindah
sekolah keSan Francisco,Amerika Serikat, mencoba menelepon
Cinta untuk berpamitan. Namun Cinta justru tetap menjauh dari Rangga. Carmen
yang saat itu sedang latihan basket melihat Rangga berpamitan pada Pak
Wardiman, sang penjaga sekolah. Ia pun segera memberitahukan teman-temannya.
Cinta yang menyadari bahwa Rangga adalah
cinta sejatinya, segera menyusul ke bandara. Namun mobil Milly terjepit mobil
lain. Mereka meminjam mobil Mamet (Dennis Adhiswara). Di sana Cinta
bertemu dengan Rangga. Ia meminta Rangga untuk membatalkan niatnya sekolah di
luar negeri. Namun Rangga tetap pergi meninggalkan Cinta-nya. Ia memberi Cinta
buku yang pada halaman terakhirnya terdapat puisi Rangga yang berjudul
"Ada Apa dengan Cinta?". Rangga berjanji akan kembali di saat bulan
purnama tiba diNew York. "
Hmmm, sedih bukan ? terharu ? menyentuh
banget ya ? hiks hiks. Mungkin pada saat itu kalian masih menjalani sekuel
percintaan yang begitu indahnya.
Nah oke. Jangan terlalu fokus, ntar ke inget
kenangan masa lalu bersama mantan. Yang dulu mungkin pernah nonton bareng
dengan mantannya (eeciyee)
Pasti dulu dalam rentang waktu 1 tahun pasti
ingin sekali tahu lanjutannya bukan ?? dan ternyata harus nunggu waktu lama,
sampai pada bulan November 2014 ini baru dimunculkan mini seri kelanjutannya.
Yaap disini saya kasih juga sinopsisnya dan
serta beberapa imbuhan parodi – parodi nya.
Sinopsis (Ada Apa dengan Cinta) II :
" Dua belas tahun setelah
terpisah di bandara, Rangga (Nicholas Saputra) masih tinggal diNew York,Amerika Serikatsebagai wartawan. Tugas menuntutnya
untuk pulang sebentar ke Jakarta. Jakarta membawanya pada kenangan akan Cinta (Dian Sastrowardoyo).
Rangga kemudian mencari Cinta lewat aplikasi pesan instan. Ia pun mengabarkan
bakal ke Jakarta pada Cinta dan mengajaknya bertemu. Cinta kaget bukan kepalang
mendadak dihubungi Rangga. Ia curhat pada sahabat-sahabatnya, Milly (Sissy Priscillia), Alya (Ladya Cheryl), Maura (Titi Kamal), dan Carmen (Adinia Wirasti). Di sini kita dapat
melihat kembali sifat-sifat sahabat Cinta yang dikenal dahulu. Carmen masih
terlihat tomboy, Maura jutek, Milly masih seperti ABG, sedang Alya tetaplah
jadi teman curhat yang paling memahami Cinta. Cinta tak kunjung membalas pesan
singkat Rangga. Rangga pun merasa harapannya pupus. Ia termenung di bandara
hendak kembali ke Amerika. Namun, apa yang dulu berakhir di bandara, kini juga
berakhir di bandara. Pertemuan antara Cinta dan Rangga kembali terwujud. "
Seru bukan ? walau cuman
sebentar tetapi dapat mengunggah memori kita pada jaman masehi waktu film
tersebut pertama kali tayang ?
Oke Jangan serius serius,
kali ini saya kasih parodi parodi hasil ide kreatip orang orang :
Komentar Terbaru