GAZEBO
Tampilan : Daftar Grid

Percobaan Sederhana di Bulan



Jika seekor gajah jatuh bersama dengan seorang manusia, atau Jika Anda menjatuhkan palu dan bulu secara bersamaan, yang manakah yang akan mencapai tanah pertama kali?
Di Bumi, jawabannya adalah gajah dan palu, namun lebih dikarenakan adanya hambatan udara. Para ilmuwan, bahkan sebelum Galileo, telah merenungkan dan menguji percobaan sederhana ini dan merasa bahwa tanpa hambatan udara, semua benda akan jatuh dengan cara yang sama. Inilah yang kemudian disebut sebagai Prinsip Ekivalensi

Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Galileo menguji prinsip ini dan mencatat bahwa dua bola yang berbeda beratnya mencapai tanah secara bersamaan, meskipun banyak sejarawan yang skeptis bahwa ia melakukan percobaan ini dari menara miring Pisa, Italia seperti cerita rakyat yang berkembang.
Tempat yang baik dan bebas dari hambatan udara untuk menguji prinsip ekivalensi ini adalah di Bulan, dan pada tahun 1971, astronot Apollo 15 David Scott menjatuhkan palu dan bulu secara bersama menuju permukaan Bulan. Benar saja, seperti yang para ilmuwan perkirakan, keduanya mencapai permukaan bulan pada waktu yang sama. Prinsip ekivalensi menunjukkan bahwa percepatan suatu benda karena gravitasi tidak tergantung pada massa, kepadatan, komposisi, warna, bentuk, atau apa pun dari benda yang jatuh. konsekuensi logis dari prinsip ini adalah bahwa cahaya (foton) yang meskipun tidak ber massa, juga harus terpengaruh oleh gravitasi. Inilah yang dipikirkan einstein untuk membangun teori relativitas umumnya.
Jadi jika tidak ada hambatan udara, anda tidak akan bisa menyusul dan menangkap kekasih anda yang jatuh lebih dulu dari anda, meskipun berat anda 10 atau 100 kali lebih berat dari kekasih anda.
Prinsip ekivalensi sangat penting untuk fisika modern, karena yang telaahnya secara mendalam dan jangkauannya masih diperdebatkan dan diuji hingga hari ini.
#A3

Falconry





Falconry adalah suatu bentuk olah-raga kuno di mana falconer (sebutan untuk orang yang melakukan falconry) melakukan kegiatan berburu binatang liar menggunakan bantuan burung pemangsa. Perburuan di sini adalah perburuan dengan menggunakan asas alamiah, di mana burung pemangsa yang digunakan sebagai teman berburu dan mangsa yang diburu merupakan hubungan antara pemangsa dan mangsa yang ada di habitat mereka.


Mengenai kapan awal mula falconry dilakukan, penelitian telah menjelaskan bahwa olahraga ini bermula pada abad pertengahan di mana orang-orang masih harus berburu untuk mendapatkan bahan makanan dan mereka belum menemukan senjata yang sangat efektif untuk berburu. Ketika mereka melihat burung pemangsa sangat handal dalam berburu, mereka akhirnya memiliki ide untuk menangkap burung pemangsa liar dan kemudian melatihnya untuk digunakan sebagai teman berburu mereka.  Di Timur Tengah (Arab) dan Asia Timur (China, Mongolia, Jepang, dan Korea) falconry sangat melegenda karena memang dari sanalah asal olahraga kuno ini berada.

Pada perkembangan selanjutnya budaya falconry juga dibawa ke Eropa dan menjadi sebuah simbol kejayaan para penguasa besar dunia pada masa kerajaan zaman dahulu. Selain itu, falconry juga merupakan sebagai sebuah simbol kebangsawanan yang mengacu kepada strata sosial pada masa kerajaan. 

Namun, ketika ditemukannya senjata api, popularitas falconry di kalangan para bangsawan juga mulai berkurang. Burung pemangsa tidak lagi dipakai sebagai teman berburu karena senjata api lebih mudah digunakan di dalam berburu, di mana tidak membutuhkan perawatan yang sulit. Tetapi untunglah masih ada beberapa orang yang melestarikan olahraga kuno tersebut hingga kini. 

Pada zaman sekarang, bentuk kegiatan falconry masih sama seperti aslinya meskipun fungsi dan peralatan yang dipakai telah banyak berubah. Falconry bukan semata-mata sebagai cara untuk mendapatkan bahan makanan namun juga dapat digunakan sebagai cara untuk melakukan pengamanan bandara (pemberantasan hama), di mana burung pemangsa digunakan untuk mengusir burung-burung liar yang mencari makan di sekitar landasan pacu pesawat. Hal ini dikarenakan burung-burung liar tersebut mengancam keselamatan para penumpang pesawat. Sekecil apapun burung yang terhisap masuk ke dalam mesin jet pesawat akan menyebabkan mesin jet tersebut rusak dan pesawat dapat mengalami kecelakaan. Penggunaan falconry untuk mengatasi masalah ini sangat efektif karena burung pemangsa yang dipakai adalah pemangsa alami burung-burung liar tersebut. Sehingga burung-burung liar tersebut akan segera pergi bila mengetahui kedatangan burung pemangsa yang telah terlatih. Selain efektif, cara sederhana ini lebih murah bila dibandingkan dengan menggunakan alat pengusir buatan, seperti contohnya sebuah audio sistem yang dapat mengeluarkan suara burung yang sedang terganggu, di mana hanya beberapa burung saja yang terusir. Jadi, falconry dapat juga digunakan sebagai Avian Control System yang sangat efektif dan dengan biaya yang relatif murah. 


Fungsi lain falconry yang tak kalah penting adalah sebagai metode untuk menangkarkan burung pemangsa. Sebagai variabel utama yang harus ada di dalam melakukan falconry, burung pemangsa tidak bisa selamanya didapatkan dengan cara menangkap dari alam. Jikalau terus menerus diambil dari alam, hal ini akan berdampak buruk terhadap populasi mereka, sehingga ide penangkaran secara intensif dilakukan. Penangkaran tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan falconer akan burung pemangsa untuk dapat melakukan falconry tetapi juga untuk meningkatkan jumlah populasi burung yang telah mengalami penurunan jumlah di alam karena faktor lain, khususnya karena penggunaan DDT, sebuah obat anti hama tanaman yang menyebabkan penipisan cangkang telur sehingga telur-telur burung pemangsa tidak dapat menetas dengan baik. Salah satu cerita sukses yang ada adalah usaha peningkatan jumlah Alap-alap Kawah atau Peregrine Falcon dengan program pembiakan secara intensif  yang dilakukan oleh para falconer di Amerika. Sekarang ini, pemerintah Amerika telah merubah status Peregrine Falcon dari terancam punah menjadi stabil karena mereka tidak lagi terancam punah. Semua ini berkat usaha keras para falconer Amerika yang telah berhasil menangkarkan mereka. Peregrine Falcon adalah salah satu spesies burung pemangsa yang sangat handal untuk dijadikan teman berburu, sehingga sangatlah disayangkan jika para falconer harus kehilangan spesies burung tersebut.

Masih sangat banyak fungsi falconry yang lainnya, namun fungsi-fungsi falconry seperti di atas diharapkan untuk dapat direalisasikan dengan populernya olah-raga ini di Indonesia, terutama fungsi falconry sebagai metode penangkaran burung  pemangsa. Hal ini mengingat banyaknya spesies burung pemangsa di Indonesia yang sangat terancam punah. Semoga dengan adanya penghargaan yang lebih terhadap burung pemangsa, mereka tidak akan cepat punah karena faktor perburuan liar dan perusakan habitat. Yang perlu ditegaskan di sini bukan hanya karena mereka sangat penting untuk falconry, tetapi lebih mengacu pada fakta bahwa mereka adalah kunci keseimbangan suatu ekosistem, sebagai peringkat satu di dalam suatu rantai makanan.



Penggunaan falconry pada zaman sekarang (secara lebih detail):

1. Hunting / pure falconry (Murni untuk berburu)
Kegiatan ini merupakan inti dari falconry dan bisa dikatakan sebagai tujuan paling utama dari setiap falconer. Dengan menjadikan burung pemangsa sebagai partner berburu, maka pemilihan burung pun tidak bisa dilakukan dengan serta merta dan harus dilakukan dengan berbagai pertimbangan antara lain, tipe lingkungan berburu, mangsa apa yang tersedia, dan lain-lain. Setiap spesies burung pemangsa memiliki tipikal habitat dan cara berburu yang berbeda, maka pilihan harus tepat dan sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan di atas.

2. Ex-situ Breeding (pengembangbiakan secara buatan)
Breeding atau pengembangbiakkan secara buatan ini bertujuan untuk meregenerasi burung pemangsa dan tidak ada batasan spesies burung yang akan dikembangbiakkan. Tetapi program ini lebih dikhususkan untuk spesies burung pemangsa yang populasinya sangat terancam punah, dalam hal ini salah satunya adalah Nisaetus bartelsi atau Javan Hawk Eagle/ Elang Jawa. Di dalam program breeding ini, burung pemangsa yang telah terlatih merupakan modal utama sebagai calon indukan. Dengan pelatihan yang telah diberikan, burung-burung tersebut tidak lagi seliar sebelumnya sehingga bisa dikembangbiakkan secara buatan. Target ke depannya, kegiatan falconry hanya akan menggunakan burung pemangsa hasil dari breeding, bukan dari tangkapan dari alam. Selain itu, akan dilakukan pelepasanliaran hasil breeding ke alam untuk mendukung jumlah populasi mereka di alam, di samping adanya usaha untuk menjaga habitat mereka supaya tetap kondusif untuk mereka berkembangbiak.

3. Rehab and Release Program (program rehabilitasi dan pelepasliaran)
Di dalam kegiatan ini, fungsi falconry adalah sebagai metode yang dipergunakan untuk melakukan proses rehabilitasi burung pemangsa liar yang kategorinya dapat dilepasliarkan kembali. Sehingga ketika waktunya tiba, burung pemangsa tersebut dapat kembali hidup dan berkembang-biak di alam.

4. Education (Edukasi)
Merupakan kegiatan yang melengkapi falconry, di mana kegiatan edukasi terdiri dari pengenalan burung pemangsa kepada masyarakat, demo terbang, dll. Dalam melakukan kegiatan ini sangat dibutuhkan burung yang terlatih dan memiliki karakter yang baik sehingga masyarakat dapat melakukan pengamatan secara lebih dekat. Mereka dapat mengenal burung pemangsa secara lebih detail sehingga mereka lebih mengerti peran mereka di alam.

5. Pest control (Penggunaan falconry untuk pemberantasan hama) 
Kegiatan falconry dapat juga digunakan untuk melakukan pemberantasan hama karena falconry menggunakan asas alamiah. Sebagai contohnya, kita bisa melakukan ‘airport patrol’ atau patroli bandara, di mana di luar negri cara ini telah terbukti sangat efektif di dalam mengusir burung-burung liar di sekitar landasan pacu pesawat. Burung-burung liar tersebut sangatlah berbahaya jikalau terhisap masuk ke dalam mesin jet pesawat karena dapat menyebabkan kecelakaan.



Singkatan - Singkatan yang sering digunakan :

- BoP : Bird Of Prey , Burung Predator (Burung Hantu / Elang)

- Manning : Proses pendekatan / pembiasaan BoP terhadap manusia dengan tujuan agar lebih mudah diatur / dilatih

- Weathering : Proses membiarkan BoP menikmati atmosfer (cuaca / suasana ditengah2 dunia manusia) untuk kesehatan dan membantu proses adaptasinya

- FOF : Feed On Fist, memberi makan diatas glove / tangan

- JTTF : Jump To The Fist, burung lompat ke glove / tangan

- FTTF : Fly To The Fist, burung terbang ke glove / tangan dengan memakai leash

- FF : Free Flight, latihan burung tebang bebas tanpa leash

- Soaring : aktifitas terbang melayang yang dilakukan elang dengan memanfaatkan energi panas bumi

- Jump Up : BOP terbang dari posisi dibawah dan Manusia berada di posisi yang lebih tinggi

- Jump Down : BOP terbang dari posisi yang lebih tinggi dan manusia berada di posisi yang lebih rendah

- Hunting Simulation : BOP mencoba berburu prey hidup

- Glove : Sarung tangan khusus utuk menghandle BOP agar terhindar dari kuku tajam nya

- Batting : burung menjauh / terbang / loncat ketika didekati oleh Manusia

- Anklet : pengikat kaki BOP, terbuat dari kulit

- Jesse : tali pendek terbuat dari kulit yang terhubung dengan Anklet

- Perch : tempat tangkringan BOP

- Leash : tali kulit setelah swivel, yang berfungsi untuk mengikatkan burung agar tidak terbang / escape

- Tidbits : potongan daging kecil2 untuk melatih

- Lure : equipment berbentuk seperti burung untuk melatih berburu

- Chick : BoP yang masih bayi / bulu kapas

- Brancher : BoP yang sudah berbulu lengkap (masih terdapat bulu kapas) tetapi belum mampu terbang (dalam istilah Manusia disebut dengan Anak)

- Juvenille : BoP yang sudah dapat terbang, dan mempunyai bulu yang lengkap (dalam istilah Manusia disebut dengan Remaja)

- Mature : BoP yang sudah dewasa



Ingat Jika Anda ingin menjadi seorang Falconer :



1. Nyawa BOP BUKANLAH SEBUAH MAINAN


Secara sengaja membiarkan burung-burung predatornya bertarung, makin dahsyat, makin fatal, manusia makin girang. Tujuan dan manfaatnya? tidak ada. 

Kebodohan diatas adalah Mangsa utama Crested Serpent Eagle (Elang Bido) di alam bukanlah Barn Owl, kecuali memang kalau mangsa alaminya ialah Barn owl, dan jika diberi selain itu BoP anda akan mengalami gangguan pencernaan.

Kalau saja Burung Hantu menjadi hama merugikan di daerah anda, mungkin secara spontan manusia akan berusaha membunuh / mengurangi populasinya / mencari predator yg lebih kuat, TAPI BUKAN UNTUK TUJUAN PAMER DAN PUBLISH SEPERTI INI

2. Menempatkan BOP didalam Kandang / Sangkar (yang sempit / kecil)

 
menempatkan dua species yg berbeda jika disatukan sperti ini dalam 1 tempat tertutup (apalagi kandang!) KECUALI hewan itu adalah mangsa utama barn owl dan tanpa hewan itu, owl anda mengalami kesulitan nafsu makan. owl tipe penyendiri saat siang dan buas saat malam. bayangkan apa yg terjadi jika momen itu datang dan kondisinya masih seperti dalam gambar. HANYA 3 KEMUNGKINAN YG DAPAT TERJADI TENTANG GAMBAR INI : monyetnya stres, owlnya stres, atau pemiliknya yang memang mengalami stres akut.

3. Kalau Tidak Punya modal, Jangan Coba Coba Jadi Falconer !!




Anda tidak sanggup beli daging dan equipmentBATALKAN RENCANA MENJADI FALCONER / ADOPTER BOP . Anda tidak punya ruang kosong utk keperluan karantina, PERTIMBANGKAN ULANG RENCANA RENCANA MENJADI FALCONER / ADOPTER BOP.

Foto diatas adalah perlakuan bodoh. Sudah dikandangi, dan dikasih makan tahu seember.



4. Jadikan BOP Yang Anda Pelihara adalah Partner / Teman / Keluarga








Sebelum Memelihara please belajar dulu tentang jenis BOP, karakteristik, dan tipe makanan normalnya.



Cara Melatih BoP :

1. Perhatikan dulu Jenis BOP nya. Jika Masuk kedalam kelompok Nokturnal maka latihlah di malam hari, tetapi jika masuk ke dalam kelompok Diurnal latihlah dia di pagi / siang hari.

2. Atur Weight Management sebelum / pertama kali kita adopt. Agar kita dapat tau batasan makanan yang diberikan agar si BOP tidak malas di latih

3. Jika anda dapat dari Hasil Wild Capture (Tangkapan Liar). Maka langkah pertama adalah dengan mengasingkan / karantina BOP di dalam kardus / gudang yang sepi. Lalu sediakan tempat minum serta tempat untuk makanan (Mencit, Tiput, Puyuh, Ayam, Kelinci, Ikan). Jika BOP sudah tidak setres dan mulai agak tenang pasangkanlah Equip khusus di kaki nya, lalu tempat kan BOP ke perch dan taruh di tempat yang biasa orang rumah lewat / melakukan aktifitas (berguna agar BOP tidak takut terhadap Manusia). Lama karantina tergantung dari kondisi BOP.

4. Jika anda belum pernah mengadopsi BOP dengan umur Juvenile, TOLONG jangan pelihara dan adopsi BOP dengan umur chick / brancher.

5. Jika tahap 3 sudah dilakukan dan BOP sudah dalam tahap nyaman dan tenang. Lakukanlah Bonding Glove. Agar BOP nyaman saat naik ke glove.

6. Manning awal.





7. FOF, yakni Feed On Fist. Memberi makan dengan cara tangan kita menjepit prey, naikkan BOP ke atas tangan. Biarkan BOP mencabik dan memakan prey yang ada di genggaman tangan kita




8. JTTF, yakni Jump To The Fist. Memberi Makan dengan cara yang sama dengan FOF. Namun kali ini biarkan BOP yang melompat ke tangan kita dengan jarak yang agak jauh dari awal.





9. FTTF, yakni Fly To The Fist. Memberi makan dengan cara yang sama dengan JTTF. Namun dengan jarak diatas 3m.







10. FF, yakni Free Fly. BOP terbang bebas tanpa menggunakan leash / tali.





11. Jump Up, Yakni dengan menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya tetapi dengan posisi BOP dibawah dan Falconer diatas.



12. Jump Down, Kebalikannya dari Jump Up :D



13. Soaring, BOP terbang bebas dilangit dan memutari kita dengan cara mengikuti aliran angin




14. Lure Hunting, BOP terbang mengejar / mengincar Lure




15. Hunting Simulation, BOP terbang mengincar prey hidup






Sumber : 

#A3

Sniper SPR-2


PT Pindad adalah perusahaan alutsista milik Pemerintah Indonesia. Hampir sebagian besar alutsista produksi Pindad digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).



Varian produk alutsista yang mampu dibuat oleh Pindad berupa pistol, senapan sampai kendaraan tempur. Kualitas produk industri pelat merah ini pun sudah mulai diakui dunia.



Tak hanya itu, senjata buatan Pindad yakni senapan sniper SPR-2 yang dipakai oleh Kopassus menjadi buah bibir di dunia internasional. Ternyata, senapan sniper canggih ini tak bisa dibuat oleh sembarang negara.


Sniper SPR-2 yang dipamerkan di JIExpo Kemayoran

Senapan sniper SPR-2 ini pertama kali secara publik dipamerkan di Indo Defense 2014 Expo & Forum yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan di JIExpo Kemayoran, Jakpus, Rabu (5/11/2014). Senjata ini ditakuti karena memiliki peluru yang mampu menembus lapis baja termasuk kendaraan tempur dengan jenis tank.

"Sniper SPR-2 jarak tembaknya bisa sampai 2 km, dan sangat diketahui oleh banyak negara, termasuk negara maju. Pelurunya yang ditakuti namanya 12,7 mm anti material," ujar Humas Pindad, Sena Maulana di stan Pindad.
Peluru anti material ini bisa menembus lapisan baja. Dan saat peluru ditembakkan dan menembus material, peluru tersebut akan terbakar lalu meledak di lokasi sasaran tembak (didalam target tembakan).

"Banyak dipakai pasukan kita seperti Kopassus, Kavaleri. Hampir semua pengunjung dari asing yang datang melihatnya senjata ini karena sudah didengar di dunia Pindad punya unggulan ini," kata Sena.

Pameran alutsista internasional ini digelar hingga tanggal 8 November 2014. Namun pameran ini baru dibuka untuk umum di hari terakhir, dan pada tanggal 7 November 2014, pengunjung yang hadir merupakan stake holder industri alat pertahanan.

"Kita peserta pameran saling mengunjungi untuk melihat produk masing-masing," ucap Sena.

Seorang peneliti dari Universitas Indonesia yang hadir di pameran, Egalita mengaku kagum dengan teknologi alat pertahanan dari dalam dan luar negeri yang dipamerkan dalam acara ini. Ia pun berharap agar ke depan Pindad sebagai salah satu produsen dalam negeri bisa lebih maju lagi.

"Teknologi oke banget tapi saya berharap agar Pindad lebih besar lagi. Supaya industri dalam negerinya maju," tuka Ega di lokasi yang sama.


Fakta Unik dari Sniper SPR-2 :

1. Kurang dari 4 negara yang mampu membuat senjata ini

PT Pindad memproduksi senapan sniper SPR-2. Ternyata, jenis senapan yang juga dipakai Kopassus ini cuma mampu diproduksi oleh segelintir negara di dunia.

"Di dunia kurang dari 4 negara yang mampu buat. Itu Amerika dan Eropa, gak enak kita sebut namanya dia di sini juga," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

2. Jangkauan Tembak yang Luar biasa



Kopassus dilengkapi senjata dengan senapan sniper SPR-2 buatan PT Pindad. Senjata ini memiliki jangkauan target mencapai ribuan meter.

"Senapan SPR-2 ini jangkauannya sampai 2 km. Tetapi jarak efektifnya 1 km," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Dia menyatakan sedikit sniper buatan luar negeri yang mampu bersaing dengan SPR-2. Kebanyakan sniper buatan luar negeri jangkauan targetnya di bawah SPR-2.

"Saingannya itu sniper black arrow dan truvelo. Keduanya di bawah SPR-2 jangkauannya," terang dia.
Black Arrow

Truvelo



3. Amunisi dari Sniper SPR-2 ini dapat Menembus, Membakar, dan Meledak di bagian dalam kendaraan tempur / target nya.

Senapan sniper SPR-2 buatan PT Pindad memiliki banyak sekali kelebihan. Senjata yang saat ini dipakai Kopassus ini amunisinya memiliki sifat yang terbilang istimewa.

"Waktu mengenai target amunisinya bisa memberi 3 efek sekaligus. Menembus, membakar dan meledak di dalam target dalam satu waktu," kata kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Tak hanya itu, kata dia, senapan sniper SPR-2 tergolong besar dikelasnya. SPR-2 memiliki amunisi kaliber 12,7 milimeter.

"Senapan ini tergolong besar dengan kaliber 12,7 milimeter. Di pasaran biasanya cuma 5,62 milimeter," terang dia.

Amunisi Sniper SPR-2

4. Peluru / Amunisi mampu menembus tank

Jenis peluru senapan sniper SPR-2 buatan PT Pindad ditakuti banyak negara. Peluru ini mampu menembus kendaraan lapis baja sekalipun.

"Amunisinya 12,7 mm anti material. Jenis pelurunya paling ditakuti karena bisa menembus tank dan kendaraan lapis baja," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Masih menurutnya, senapan sniper SPR-2 ini berawal dari sniper SPR 2 buatan luar negeri milik TNI yang tak berani diuji coba. Kemudian Pindad berusaha menguji dan akhirnya membuat sendiri.

"Tahun 2003, TNI punya 3 pucuk dari negara lain tapi gak berani uji karena berat dan besar. Akhirnya kita uji bareng-bareng lalu kita buat sendiri tahun 2006, itu awalnya," pungkas dia.



5. Sniper ini bisa mengguncang dunia sniper Internasional


PT Pindad memproduksi senapan sniper SPR-2 untuk digunakan Kopassus. Senjata ini pun mengundang decak kagum dunia.

"Kita sedang bikin 150 pucuk (senapan SPR-2) buat Kopassus. Dunia sniper internasional sudah langsung gempar, bagaimana kalau lebih?" kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Selain menciutkan nyali, menurutnya kemampuan Pindad itu membuat beberapa negara pun kepincut ingin memiliki. Saat pameran senjata 2014 (Indo Defence) kali ini banyak negara yang ingin melihat dari dekat senapan tersebut.

"Orang-orang asing juga langsung lihat ke sini. Mereka sudah denger ini, kita mampu membuat," terang dia.

#A3

Komentar Terbaru

Just load it!