Jika seekor gajah jatuh bersama dengan seorang manusia, atau Jika Anda menjatuhkan palu dan bulu secara bersamaan, yang manakah yang akan mencapai tanah pertama kali?
Di Bumi, jawabannya adalah gajah dan palu, namun lebih dikarenakan adanya hambatan udara. Para ilmuwan, bahkan sebelum Galileo, telah merenungkan dan menguji percobaan sederhana ini dan merasa bahwa tanpa hambatan udara, semua benda akan jatuh dengan cara yang sama. Inilah yang kemudian disebut sebagai Prinsip Ekivalensi
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Galileo menguji prinsip ini dan mencatat bahwa dua bola yang berbeda beratnya mencapai tanah secara bersamaan, meskipun banyak sejarawan yang skeptis bahwa ia melakukan percobaan ini dari menara miring Pisa, Italia seperti cerita rakyat yang berkembang.
Tempat yang baik dan bebas dari hambatan udara untuk menguji prinsip ekivalensi ini adalah di Bulan, dan pada tahun 1971, astronot Apollo 15 David Scott menjatuhkan palu dan bulu secara bersama menuju permukaan Bulan. Benar saja, seperti yang para ilmuwan perkirakan, keduanya mencapai permukaan bulan pada waktu yang sama. Prinsip ekivalensi menunjukkan bahwa percepatan suatu benda karena gravitasi tidak tergantung pada massa, kepadatan, komposisi, warna, bentuk, atau apa pun dari benda yang jatuh. konsekuensi logis dari prinsip ini adalah bahwa cahaya (foton) yang meskipun tidak ber massa, juga harus terpengaruh oleh gravitasi. Inilah yang dipikirkan einstein untuk membangun teori relativitas umumnya.
Jadi jika tidak ada hambatan udara, anda tidak akan bisa menyusul dan menangkap kekasih anda yang jatuh lebih dulu dari anda, meskipun berat anda 10 atau 100 kali lebih berat dari kekasih anda.
Prinsip ekivalensi sangat penting untuk fisika modern, karena yang telaahnya secara mendalam dan jangkauannya masih diperdebatkan dan diuji hingga hari ini.
Falconry adalah suatu bentuk olah-raga kuno di
mana falconer (sebutan untuk orang yang melakukan falconry) melakukan kegiatan
berburu binatang liar menggunakan bantuan burung pemangsa. Perburuan di sini
adalah perburuan dengan menggunakan asas alamiah, di mana burung pemangsa yang
digunakan sebagai teman berburu dan mangsa yang diburu merupakan hubungan
antara pemangsa dan mangsa yang ada di habitat mereka.
Mengenai kapan awal mula falconry dilakukan,
penelitian telah menjelaskan bahwa olahraga ini bermula pada abad pertengahan
di mana orang-orang masih harus berburu untuk mendapatkan bahan makanan dan
mereka belum menemukan senjata yang sangat efektif untuk berburu. Ketika mereka
melihat burung pemangsa sangat handal dalam berburu, mereka akhirnya memiliki
ide untuk menangkap burung pemangsa liar dan kemudian melatihnya untuk
digunakan sebagai teman berburu mereka. Di Timur Tengah (Arab) dan Asia
Timur (China, Mongolia, Jepang, dan Korea) falconry sangat melegenda karena
memang dari sanalah asal olahraga kuno ini berada.
Pada perkembangan selanjutnya budaya falconry juga
dibawa ke Eropa dan menjadi sebuah simbol kejayaan para penguasa besar dunia
pada masa kerajaan zaman dahulu. Selain itu, falconry juga merupakan sebagai
sebuah simbol kebangsawanan yang mengacu kepada strata sosial pada masa
kerajaan.
Namun, ketika ditemukannya senjata api,
popularitas falconry di kalangan para bangsawan juga mulai berkurang. Burung
pemangsa tidak lagi dipakai sebagai teman berburu karena senjata api lebih
mudah digunakan di dalam berburu, di mana tidak membutuhkan perawatan yang
sulit. Tetapi untunglah masih ada beberapa orang yang melestarikan olahraga
kuno tersebut hingga kini.
Pada zaman sekarang, bentuk kegiatan falconry
masih sama seperti aslinya meskipun fungsi dan peralatan yang dipakai telah
banyak berubah. Falconry bukan semata-mata sebagai cara untuk mendapatkan bahan
makanan namun juga dapat digunakan sebagai cara untuk melakukan pengamanan
bandara (pemberantasan hama), di mana burung pemangsa digunakan untuk mengusir
burung-burung liar yang mencari makan di sekitar landasan pacu pesawat. Hal ini
dikarenakan burung-burung liar tersebut mengancam keselamatan para penumpang
pesawat. Sekecil apapun burung yang terhisap masuk ke dalam mesin jet pesawat
akan menyebabkan mesin jet tersebut rusak dan pesawat dapat mengalami
kecelakaan. Penggunaan falconry untuk mengatasi masalah ini sangat efektif
karena burung pemangsa yang dipakai adalah pemangsa alami burung-burung liar
tersebut. Sehingga burung-burung liar tersebut akan segera pergi bila
mengetahui kedatangan burung pemangsa yang telah terlatih. Selain efektif, cara
sederhana ini lebih murah bila dibandingkan dengan menggunakan alat pengusir
buatan, seperti contohnya sebuah audio sistem yang dapat mengeluarkan suara
burung yang sedang terganggu, di mana hanya beberapa burung saja yang terusir.
Jadi, falconry dapat juga digunakan sebagai Avian Control System yang sangat
efektif dan dengan biaya yang relatif murah.
Fungsi lain falconry yang tak kalah penting adalah
sebagai metode untuk menangkarkan burung pemangsa. Sebagai variabel utama yang
harus ada di dalam melakukan falconry, burung pemangsa tidak bisa selamanya
didapatkan dengan cara menangkap dari alam. Jikalau terus menerus diambil dari
alam, hal ini akan berdampak buruk terhadap populasi mereka, sehingga ide
penangkaran secara intensif dilakukan. Penangkaran tidak hanya bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan falconer akan burung pemangsa untuk dapat melakukan falconry
tetapi juga untuk meningkatkan jumlah populasi burung yang telah mengalami
penurunan jumlah di alam karena faktor lain, khususnya karena penggunaan DDT,
sebuah obat anti hama tanaman yang menyebabkan penipisan cangkang telur
sehingga telur-telur burung pemangsa tidak dapat menetas dengan baik. Salah
satu cerita sukses yang ada adalah usaha peningkatan jumlah Alap-alap Kawah
atau Peregrine Falcon dengan program pembiakan secara intensif yang
dilakukan oleh para falconer di Amerika. Sekarang ini, pemerintah Amerika telah
merubah status Peregrine Falcon dari terancam punah menjadi stabil karena
mereka tidak lagi terancam punah. Semua ini berkat usaha keras para falconer
Amerika yang telah berhasil menangkarkan mereka. Peregrine Falcon adalah salah
satu spesies burung pemangsa yang sangat handal untuk dijadikan teman berburu,
sehingga sangatlah disayangkan jika para falconer harus kehilangan spesies
burung tersebut.
Masih sangat banyak fungsi falconry yang lainnya,
namun fungsi-fungsi falconry seperti di atas diharapkan untuk dapat
direalisasikan dengan populernya olah-raga ini di Indonesia, terutama fungsi
falconry sebagai metode penangkaran burung pemangsa. Hal ini mengingat
banyaknya spesies burung pemangsa di Indonesia yang sangat terancam punah.
Semoga dengan adanya penghargaan yang lebih terhadap burung pemangsa, mereka
tidak akan cepat punah karena faktor perburuan liar dan perusakan habitat. Yang
perlu ditegaskan di sini bukan hanya karena mereka sangat penting untuk
falconry, tetapi lebih mengacu pada fakta bahwa mereka adalah kunci
keseimbangan suatu ekosistem, sebagai peringkat satu di dalam suatu rantai
makanan.
Penggunaan falconry pada zaman sekarang (secara
lebih detail):
1. Hunting / pure falconry (Murni untuk berburu) Kegiatan ini merupakan inti dari falconry dan bisa
dikatakan sebagai tujuan paling utama dari setiap falconer. Dengan menjadikan
burung pemangsa sebagai partner berburu, maka pemilihan burung pun tidak bisa
dilakukan dengan serta merta dan harus dilakukan dengan berbagai pertimbangan
antara lain, tipe lingkungan berburu, mangsa apa yang tersedia, dan lain-lain.
Setiap spesies burung pemangsa memiliki tipikal habitat dan cara berburu yang
berbeda, maka pilihan harus tepat dan sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan
di atas.
2. Ex-situ Breeding (pengembangbiakan secara
buatan) Breeding atau pengembangbiakkan secara buatan ini
bertujuan untuk meregenerasi burung pemangsa dan tidak ada batasan spesies
burung yang akan dikembangbiakkan. Tetapi program ini lebih dikhususkan untuk
spesies burung pemangsa yang populasinya sangat terancam punah, dalam hal ini
salah satunya adalah Nisaetus bartelsi atau Javan Hawk Eagle/ Elang Jawa. Di
dalam program breeding ini, burung pemangsa yang telah terlatih merupakan modal
utama sebagai calon indukan. Dengan pelatihan yang telah diberikan,
burung-burung tersebut tidak lagi seliar sebelumnya sehingga bisa
dikembangbiakkan secara buatan. Target ke depannya, kegiatan falconry hanya
akan menggunakan burung pemangsa hasil dari breeding, bukan dari tangkapan dari
alam. Selain itu, akan dilakukan pelepasanliaran hasil breeding ke alam untuk
mendukung jumlah populasi mereka di alam, di samping adanya usaha untuk menjaga
habitat mereka supaya tetap kondusif untuk mereka berkembangbiak.
3. Rehab and Release Program (program rehabilitasi
dan pelepasliaran) Di dalam kegiatan ini, fungsi falconry adalah
sebagai metode yang dipergunakan untuk melakukan proses rehabilitasi burung
pemangsa liar yang kategorinya dapat dilepasliarkan kembali. Sehingga ketika
waktunya tiba, burung pemangsa tersebut dapat kembali hidup dan berkembang-biak
di alam.
4. Education (Edukasi) Merupakan kegiatan yang melengkapi falconry, di
mana kegiatan edukasi terdiri dari pengenalan burung pemangsa kepada
masyarakat, demo terbang, dll. Dalam melakukan kegiatan ini sangat dibutuhkan
burung yang terlatih dan memiliki karakter yang baik sehingga masyarakat dapat
melakukan pengamatan secara lebih dekat. Mereka dapat mengenal burung pemangsa
secara lebih detail sehingga mereka lebih mengerti peran mereka di alam.
5. Pest control (Penggunaan falconry untuk
pemberantasan hama) Kegiatan falconry dapat juga digunakan untuk
melakukan pemberantasan hama karena falconry menggunakan asas alamiah. Sebagai
contohnya, kita bisa melakukan ‘airport patrol’ atau patroli bandara, di mana
di luar negri cara ini telah terbukti sangat efektif di dalam mengusir
burung-burung liar di sekitar landasan pacu pesawat. Burung-burung liar
tersebut sangatlah berbahaya jikalau terhisap masuk ke dalam mesin jet pesawat
karena dapat menyebabkan kecelakaan.
Singkatan - Singkatan yang sering digunakan :
- BoP : Bird Of Prey , Burung Predator (Burung Hantu / Elang) - Manning : Proses pendekatan / pembiasaan BoP terhadap manusia dengan tujuan agar lebih mudah diatur / dilatih - Weathering : Proses membiarkan BoP menikmati atmosfer (cuaca / suasana ditengah2 dunia manusia) untuk kesehatan dan membantu proses adaptasinya - FOF : Feed On Fist, memberi makan diatas glove / tangan - JTTF : Jump To The Fist, burung lompat ke glove / tangan - FTTF : Fly To The Fist, burung terbang ke glove / tangan dengan memakai leash - FF : Free Flight, latihan burung tebang bebas tanpa leash - Soaring : aktifitas terbang melayang yang dilakukan elang dengan memanfaatkan energi panas bumi - Jump Up : BOP terbang dari posisi dibawah dan Manusia berada di posisi yang lebih tinggi - Jump Down : BOP terbang dari posisi yang lebih tinggi dan manusia berada di posisi yang lebih rendah - Hunting Simulation : BOP mencoba berburu prey hidup - Glove : Sarung tangan khusus utuk menghandle BOP agar terhindar dari kuku tajam nya - Batting : burung menjauh / terbang / loncat ketika didekati oleh Manusia - Anklet : pengikat kaki BOP, terbuat dari kulit - Jesse : tali pendek terbuat dari kulit yang terhubung dengan Anklet - Perch : tempat tangkringan BOP - Leash : tali kulit setelah swivel, yang berfungsi untuk mengikatkan burung agar tidak terbang / escape - Tidbits : potongan daging kecil2 untuk melatih - Lure : equipment berbentuk seperti burung untuk melatih berburu - Chick : BoP yang masih bayi / bulu kapas - Brancher : BoP yang sudah berbulu lengkap (masih terdapat bulu kapas) tetapi belum mampu terbang (dalam istilah Manusia disebut dengan Anak) - Juvenille : BoP yang sudah dapat terbang, dan mempunyai bulu yang lengkap (dalam istilah Manusia disebut dengan Remaja) - Mature : BoP yang sudah dewasa
Ingat Jika Anda ingin menjadi seorang Falconer :
1. Nyawa BOP BUKANLAH SEBUAH MAINAN
Secara sengaja membiarkan burung-burung predatornya bertarung, makin dahsyat, makin fatal, manusia makin girang. Tujuan dan manfaatnya? tidak ada.
Kebodohan diatas adalah Mangsa utama Crested Serpent Eagle (Elang Bido) di alam bukanlah Barn Owl, kecuali memang kalau mangsa alaminya ialah Barn owl, dan jika diberi selain itu BoP anda akan mengalami gangguan pencernaan.
Kalau saja Burung Hantu menjadi hama merugikan di daerah anda, mungkin secara spontan manusia akan berusaha membunuh / mengurangi populasinya / mencari predator yg lebih kuat, TAPI BUKAN UNTUK TUJUAN PAMER DAN PUBLISH SEPERTI INI
menempatkan dua species yg berbeda jika disatukan sperti ini dalam 1 tempat tertutup (apalagi kandang!) KECUALI hewan itu adalah mangsa utama barn owl dan tanpa hewan itu, owl anda mengalami kesulitan nafsu makan. owl tipe penyendiri saat siang dan buas saat malam. bayangkan apa yg terjadi jika momen itu datang dan kondisinya masih seperti dalam gambar. HANYA 3 KEMUNGKINAN YG DAPAT TERJADI TENTANG GAMBAR INI : monyetnya stres, owlnya stres, atau pemiliknya yang memang mengalami stres akut.
3. Kalau Tidak Punya modal, Jangan Coba Coba Jadi Falconer !!
Anda tidak sanggup beli daging dan equipment? BATALKAN RENCANA MENJADI FALCONER / ADOPTER BOP . Anda tidak punya ruang kosong utk keperluan karantina, PERTIMBANGKAN ULANG RENCANA RENCANA MENJADI FALCONER / ADOPTER BOP.
Foto diatas adalah perlakuan bodoh. Sudah dikandangi, dan dikasih makan tahu seember. 4. Jadikan BOP Yang Anda Pelihara adalah Partner / Teman / Keluarga
Sebelum Memelihara please belajar dulu tentang jenis BOP, karakteristik, dan tipe makanan normalnya.
Cara Melatih BoP :
1. Perhatikan dulu Jenis BOP nya. Jika Masuk kedalam kelompok Nokturnal maka latihlah di malam hari, tetapi jika masuk ke dalam kelompok Diurnal latihlah dia di pagi / siang hari.
2. Atur Weight Management sebelum / pertama kali kita adopt. Agar kita dapat tau batasan makanan yang diberikan agar si BOP tidak malas di latih
3. Jika anda dapat dari Hasil Wild Capture (Tangkapan Liar). Maka langkah pertama adalah dengan mengasingkan / karantina BOP di dalam kardus / gudang yang sepi. Lalu sediakan tempat minum serta tempat untuk makanan (Mencit, Tiput, Puyuh, Ayam, Kelinci, Ikan). Jika BOP sudah tidak setres dan mulai agak tenang pasangkanlah Equip khusus di kaki nya, lalu tempat kan BOP ke perch dan taruh di tempat yang biasa orang rumah lewat / melakukan aktifitas (berguna agar BOP tidak takut terhadap Manusia). Lama karantina tergantung dari kondisi BOP.
4. Jika anda belum pernah mengadopsi BOP dengan umur Juvenile, TOLONG jangan pelihara dan adopsi BOP dengan umur chick / brancher.
5. Jika tahap 3 sudah dilakukan dan BOP sudah dalam tahap nyaman dan tenang. Lakukanlah Bonding Glove. Agar BOP nyaman saat naik ke glove. 6. Manning awal.
7. FOF, yakni Feed On Fist. Memberi makan dengan cara tangan kita menjepit prey, naikkan BOP ke atas tangan. Biarkan BOP mencabik dan memakan prey yang ada di genggaman tangan kita
8. JTTF, yakni Jump To The Fist. Memberi Makan dengan cara yang sama dengan FOF. Namun kali ini biarkan BOP yang melompat ke tangan kita dengan jarak yang agak jauh dari awal.
9. FTTF, yakni Fly To The Fist. Memberi makan dengan cara yang sama dengan JTTF. Namun dengan jarak diatas 3m.
10. FF, yakni Free Fly. BOP terbang bebas tanpa menggunakan leash / tali.
11. Jump Up, Yakni dengan menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya tetapi dengan posisi BOP dibawah dan Falconer diatas.
12. Jump Down, Kebalikannya dari Jump Up :D
13. Soaring, BOP terbang bebas dilangit dan memutari kita dengan cara mengikuti aliran angin
14. Lure Hunting, BOP terbang mengejar / mengincar Lure
15. Hunting Simulation, BOP terbang mengincar prey hidup
PTPindadadalah perusahaan alutsista milik Pemerintah Indonesia. Hampir sebagian
besar alutsista produksi Pindad digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia
(TNI).
Varian produk alutsista yang mampu dibuat oleh
Pindad berupa pistol, senapan sampai kendaraan tempur. Kualitas produk industri
pelat merah ini pun sudah mulai diakui dunia.
Tak hanya itu, senjata buatan Pindad yakni
senapan sniper SPR-2 yang dipakai oleh Kopassus menjadi buah bibir di dunia
internasional. Ternyata, senapan sniper canggih ini tak bisa dibuat oleh
sembarang negara.
Sniper SPR-2 yang dipamerkan di JIExpo Kemayoran
Senapan sniper SPR-2 ini pertama kali secara
publik dipamerkan di Indo Defense 2014 Expo & Forum yang diselenggarakan
oleh Kementerian Pertahanan di JIExpo Kemayoran, Jakpus, Rabu (5/11/2014).
Senjata ini ditakuti karena memiliki peluru yang mampu menembus lapis baja
termasuk kendaraan tempur dengan jenis tank.
"Sniper SPR-2 jarak tembaknya bisa sampai 2
km, dan sangat diketahui oleh banyak negara, termasuk negara maju. Pelurunya
yang ditakuti namanya 12,7 mm anti material," ujar Humas Pindad, Sena
Maulana di stan Pindad.
Peluru anti material ini bisa
menembus lapisan baja. Dan saat peluru ditembakkan dan menembus material, peluru
tersebut akan terbakar lalu meledak di lokasi sasaran tembak (didalam target
tembakan). "Banyak dipakai pasukan kita seperti
Kopassus, Kavaleri. Hampir semua pengunjung dari asing yang datang melihatnya
senjata ini karena sudah didengar di dunia Pindad punya unggulan ini,"
kata Sena. Pameran alutsista internasional ini digelar hingga
tanggal 8 November 2014. Namun pameran ini baru dibuka untuk umum di hari terakhir,
dan pada tanggal 7 November 2014, pengunjung yang hadir merupakan stake holder
industri alat pertahanan. "Kita peserta pameran saling mengunjungi
untuk melihat produk masing-masing," ucap Sena. Seorang peneliti dari Universitas Indonesia yang
hadir di pameran, Egalita mengaku kagum dengan teknologi alat pertahanan dari
dalam dan luar negeri yang dipamerkan dalam acara ini. Ia pun berharap agar ke
depan Pindad sebagai salah satu produsen dalam negeri bisa lebih maju lagi. "Teknologi oke banget tapi saya berharap
agar Pindad lebih besar lagi. Supaya industri dalam negerinya maju," tuka
Ega di lokasi yang sama.
Fakta Unik dari Sniper SPR-2 :
1. Kurang dari 4 negara yang mampu membuat
senjata ini
PT Pindad
memproduksi senapan sniper SPR-2. Ternyata, jenis senapan yang juga dipakai
Kopassus ini cuma mampu diproduksi oleh segelintir negara di dunia.
"Di dunia kurang dari 4 negara yang mampu
buat. Itu Amerika dan Eropa, gak enak kita sebut namanya dia di sini
juga," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran
Jakarta, Rabu (5/11).
2. Jangkauan Tembak
yang Luar biasa
Kopassus
dilengkapi senjata dengan senapan sniper SPR-2 buatan PT Pindad. Senjata ini
memiliki jangkauan target mencapai ribuan meter.
"Senapan SPR-2 ini jangkauannya sampai 2
km. Tetapi jarak efektifnya 1 km," kata kadep komunikasi Pindad Sena
Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11). Dia menyatakan sedikit sniper buatan luar negeri
yang mampu bersaing dengan SPR-2. Kebanyakan sniper buatan luar negeri jangkauan
targetnya di bawah SPR-2. "Saingannya itu sniper black arrow dan truvelo.
Keduanya di bawah SPR-2 jangkauannya," terang dia.
Black Arrow
Truvelo
3. Amunisi dari
Sniper SPR-2 ini dapat Menembus, Membakar, dan Meledak di bagian dalam
kendaraan tempur / target nya.
Senapan sniper
SPR-2 buatan PT Pindad memiliki banyak sekali kelebihan. Senjata yang saat ini
dipakai Kopassus ini amunisinya memiliki sifat yang terbilang istimewa. "Waktu mengenai target amunisinya bisa
memberi 3 efek sekaligus. Menembus, membakar dan meledak di dalam target dalam
satu waktu," kata kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo
Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11). Tak hanya itu, kata dia, senapan sniper SPR-2
tergolong besar dikelasnya. SPR-2 memiliki amunisi kaliber 12,7 milimeter. "Senapan ini tergolong besar dengan kaliber
12,7 milimeter. Di pasaran biasanya cuma 5,62 milimeter," terang dia.
Amunisi Sniper SPR-2
4. Peluru / Amunisi
mampu menembus tank
Jenis peluru
senapan sniper SPR-2 buatan PT Pindad ditakuti banyak negara. Peluru ini mampu
menembus kendaraan lapis baja sekalipun. "Amunisinya 12,7 mm anti material. Jenis
pelurunya paling ditakuti karena bisa menembus tank dan kendaraan lapis
baja," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran
Jakarta, Rabu (5/11). Masih menurutnya, senapan sniper SPR-2 ini
berawal dari sniper SPR 2 buatan luar negeri milik TNI yang tak berani diuji coba.
Kemudian Pindad berusaha menguji dan akhirnya membuat sendiri. "Tahun 2003, TNI punya 3 pucuk dari negara
lain tapi gak berani uji karena berat dan besar. Akhirnya kita uji
bareng-bareng lalu kita buat sendiri tahun 2006, itu awalnya," pungkas
dia.
5. Sniper ini bisa
mengguncang dunia sniper Internasional
PT Pindad
memproduksi senapan sniper SPR-2 untuk digunakan Kopassus. Senjata ini pun
mengundang decak kagum dunia.
"Kita sedang bikin 150 pucuk (senapan
SPR-2) buat Kopassus. Dunia sniper internasional sudah langsung gempar,
bagaimana kalau lebih?" kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di
JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11). Selain menciutkan nyali, menurutnya kemampuan
Pindad itu membuat beberapa negara pun kepincut ingin memiliki. Saat pameran
senjata 2014 (Indo Defence) kali ini banyak negara yang ingin melihat dari
dekat senapan tersebut. "Orang-orang asing juga langsung lihat ke
sini. Mereka sudah denger ini, kita mampu membuat," terang dia.
Komentar Terbaru